THANK'S GOD.. YOU GAVE ME A GREAT LIFE:) FRIENDSHIP, FAMILY... AND A LITTLE THING CALLED LOVE

Senin, 17 Desember 2012

Cerpen


Semoga Aku Tidak Bingung

Walau mimpi akan selalu menjadi angan, biarkan harapan beri sedikit kekuatan.

*

Siapa yang ingin tahu tentang si Bingung? Mungkin hanya sedikit orang yang mengerti akan dirinya, atau mungkin banyak. Namun, barangsiapa yang ingin mengerti lebih tentang dirinya bisa tanyakan saja pada kedua orang tua atau teman dekatnya. Dan aku adalah salah satu dari temannya.

Baiklah ini sedikit gambaran tentang dia dan kehidupannya yang serba simpel. Dia bernama Bingung Saja, yang kini masih memakan bangku SMU. Lahir dan tumbuh dalam keluarga yang katakanlah kecukupan. Dia dianugerahi Tuhan perawakan yang menawan, badannya bagaikan beton kokoh yang sulit dirobohkan tapi sekali roboh bisa-bisa orang di sekitarnya seperti merasakan gempa berskala kecil, wajahnya kocak seperti terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gembira, sedih, atau dipermalukan wajahnya tetap memancarkan senyum walau sedikit tidak ikhlas. Sejak kecil dia sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuanya pun meski tidak memanjakannya, tetap sangat menyayanginya.

Sejak TK sampai SMA dia pun terkenal dikalangan sekolahnya. Entah apa yang membuatnya popular, mungkin dia memiliki pesona tersendiri. Padahal dia jarang sekali mewakili lomba-lomba atau olimpiade, bahkan mungkin juga tidak pernah, kalaupun pernah itu pun merupakan sebuah pengecualian. Sewaktu SD dia selalu menyandang peringkat lima besar di kelasnya. Sewaktu menginjak SMP dia melanjutkan ke salah satu pondok modern yang bisa dikatakan cukup favorit dan populer. Namun, tiga semester kemudian bukannya dia mendapat juara tapi malah sanksi drop out yang harus ia jalani.

Kehidupannya memang penuh liku-liku. Setelah dia di keluarkan dengan tidak hormat karena perbuatan fatal yang dilakukannya, kemudian dia pindah ke salah satu SMP di desanya dan dia hijrah dari perbuatan buruknya itu. Terbukti disaat kelulusan, dia mendapat nilai UN yang tertinggi di sekolahnya dan berhasil diterima di SMA unggulan di kotanya. Meski begitu, dia tidak besar kepala. Dia tetap berjalan dengan menundukkan kepala. Dia hanya ingin menjadi seorang yang sedang-sedang saja, terlalu pintar tidak, bodoh pun tidak, terbukti sewaktu menerima lembar hasil ulangan dia biasanya mendapat nilai pas-pasan, antara urusan dunia dan akhirat pun seimbang tanpa dia anggap sulit, yang ada dalam benaknya berusaha itu sudah cukup baginya.

Dibanding teman-temannya yang lain dia merasa sedikit lebih bangga. Baiklah kalau teman-temannya mendapat nilai di atas rata-rata tapi entah darimana asalnya. Tapi Bingung tetap ber-khusnuzon kalau teman-temannya mendapatkan nilai yang memuaskan itu dengan jerih payah mereka sendiri. Yang dia bingungkan mengapa disaat akan diadakan ulangan teman-temannya semua bingung untuk mencari jejeran teman yang dianggapnya top. Nah, sedangkan dia, dia hanya menganggap biasa-biasa aja tuh, malah terkadang Bingung disuruh pindah dari bangkunya yang mereka anggap strategis untuk mengadakan kerjasama. Salah satu dari mereka berkata, “Heh, pindah dong! Bangku ini kan sudah ku-setting khusus buat Rama.” Namun perkataan itu hanya dia jawab dengan senyuman manisnya dan dia tetap mempertahankan bangku itu karena di dalam peraturan kelasnya tersirat aturan “siapa cepat dia dapat”, entah itu si anak pintar atau biasa yang terpenting harus konsisten terhadap aturan tersebut.

*

“Ngung, sudah ngerjain PR matematika yang kemarin belum?”, tanya Pi’i, salah satu dari temannya

“Belum, aku tadi malam ketiduran, terlalu capek. Memangnya kenapa Pi?”, sahut Bingung.

“Kamu gak takut apa diberi 25 soal sama guru itu kalau tidak nengerjakan PR?”

“Pi, memangnya kamu takut? Kalo kamu takut sama aja musyrik!”, jawabnya sambil bercanda.

“Lhoh, kok bisa gitu Ngung?”

“Ya bisalah, yang perlu kamu takuti itu hanyalah Tuhan.”

“Hahaha bisa aja kamu ini Ngung. Ya sudah ayo sekarang kerjakan PR-nya!”

“Jangan, namanya PR ya harus dikerjakan di rumah Pi.”

“Hah, susah ngomong sama kamu, membingungkan kayak namanya.”

Si Bingung memang aneh, bukan? Tapi itu sebenarnya patut dilakukan. Dalam hatinya ia bergumam, “Kalau pekerjaan rumah itu dikerjakan di sekolah, lalu untuk apa sewaktu SD aku dulu diajarkan pekerjaan rumah itu harus diselesaikan di rumah? Meskipun harus menerima hukuman karena tidak mengerjakan, aku tetap bersedia. Apa sebenarnya yang kuinginkan? Aku sebenarnya bingung ingin mengikuti alur pikiran teman-temanku yang sedikit menyimpang atau tetap pada pendirianku sendiri, jujur dan mandiri. Lagi-lagi aku bingung sendiri.”

*

Siang itu, saat Mid Semester Test mata pelajaran kimia berlangsung, dia menggoreskan tinta merah pada lembar jawabannya. Entah apa yang dilakukannya itu tak sadar ataukah mempunyai maksud terselubung di dalamnya, yang terlintas dalam pikirannya hanyalah mengerjakan dengan jerih payahnya sendiri, ngawur-pun dilaluinya dengan sangat pasti dan penuh ekspektasi, yang terpenting dirinya bangga tidak menuangkan satupun jawaban teman di atas kertasnya. Ups, namun tampaknya dia lupa bahwa telah menjawab dengan tinta yang dianggap sakral tersebut. Seminggu setelah itu dia dimintai pertanggung jawaban oleh seorang guru kimia karena kelalaiannya. Akan tetapi guru tersebut sepertinya sedikit lupa pula, yang menulis tinta merah atas nama Bingung Saja atau Bingung yang lain. Lagi-lagi bingung. Kali ini guru tersebut yang dibuat bingung.

“Ngung, kira-kira apa yang ada dalam pikiranmu kalau orang menulis tinta dengan warna merah?”, tanya guru itu.

Bingung terdiam sejenak sembari berpikir mengapa guru tersebut bertanya tentang itu, lalu ia menjawab, “Mungkin, orang tersebut tidak memiliki tinta selain merah, Pak.”

“Terus, apa kamu tahu arti dari tinta merah?”

“Emm, tidak tahu Pak”, lanjut Bingung sambil menggaruk-garuk kepala memancarkan kebingungan, itu pun dia lakukan dengan senyuman. Teman-temannya serentak terbahak-bahak mendengar jawaban si Bingung dan terdengar suara yang agak jelas di sela-sela kerumunan tawa itu, “Gimana sih inginnya dia itu, mau nantang guru apa mau buat lelucon? Hahaha.”

Bingung lagi-lagi bingung dalam hatinya berbisik, “Apa yang perlu ditertawakan? Rasanya aku sudah menjawab dengan jujur. Apa dunia ini sudah terbalik, yang jujur ditertawakan, yang tidak jujur dianggap meyakinkan?”

“Eh, Ngung kalau kamu tidak tahu arti tinta merah itu apa, lalu kamu tahu tidak maksud saya bertanya kepada kamu?”

“Tidak juga, Pak.”

“Haduh kamu ini, gini Ngung sepertinya kamu yang menjawab soal kimia dengan tinta merah tapi saya masih ragu itu tulisanmu atau bukan. Tapi, nampaknya itu tulisan kamu deh, soalnya font-nya langka banget.”

“Tapi saya juga lupa, Pak.” jawab si Bingung tampak sedikit tegang namun dia masih sempat memancarkan senyum anehnya. Dan kali ini Bingung dan gurunya sama-sama bingung.

“Kring”, “Kring”, “Kriiing”. Perbincangan si Bingung dengan gurunya disela dering bel tanda jam pelajaran berakhir.

“Ok Ngung, nanti saya lihat lagi siapa pemilik lembar jawaban itu.” lanjut guru itu mengakhiri percakapannya lalu memberi salam kepada murid-muridnya. Sedangkan Si Bingung berharap semoga itu bukan tulisan dia.

*

Dua bulan telah berlalu dan kini waktunya dia menjalani Ujian Akhir Semester. Begitu santainya dia. Dengan optimis Bingung menjawab semua soal yang di ujikan. Tidak jarang dia pun sebelum atau sesudah mengerjakan, masih sempat-sempatnya tidur. Dan ironisnya lagi, di balik itu dia lebih dulu menyelesaikan ujiannya dibanding teman-temannya yang lain. Sungguh mengagetkan seluruh isi dalam ruangan tersebut. Teman-temannya tercengang secara spontan serentak berkata, “Wiiih, edian si Bingung sudah selesai. Pakai jurus apaan dia itu kok mengerjakan secepat kilat menyambar???”. Si Bingung lalu dengan gagahnya dan penuh wibawa mengumpulkan lembar jawabannya kepada pengawas ujian dan keluar ruangan. Sementara teman-teman yang lain kebingungan memilih jawaban yang benar, sebagian lagi bingung mencari kepastian jawaban alias bermusyawarah dengan isyarat-isyarat tubuh, dan pengawas pun kebingungan mengawasi. Lagi-lagi bingung.

Setengah jam kemudian bel berdering dan waktunya istirahat. Teman-teman Bingung langsung berkumpul, bersantai, belajar untuk ujian selanjutnya, dan sebagian yang lain membahas ujian yang baru saja usai. Sementara itu, Bingung sendiri malah pergi untuk menunaikan shalat Dhuha. Baginya semua ilmu itu milik Allah semata dan yang memberi ilmu itu pun Dia Yang Maha Pemberi. Jadi dia cukup berusaha semampunya dan tidak dilebih-lebihkan hingga akhirnya lupa kepada Yang Maha Memiliki ilmu itu sendiri.

Pada saat yang sama pula, kedua teman Bingung membicarakan tentang dirinya.

“Dul, si Bingung itu jarang nyontek ya?”, tanya De Gea kepada Adul yang seruang dengan Bingung saat ujian

Adul kemudian menjawab dengan tawanya, “Ya memang jarang nyontek tapi dia ngawur jawabnya kalau gak bisa, menuruti kata hatinya kali, hahaha.”

“Tapi dia termasuk jujur lho. Walah walah, masih ada saja orang yang seperti itu. Aku sebenarnya iri dengannya. Aku ingin seperti dia, tapi aku takut kalau nilaiku nanti jelek, mendingan nyontek teman-teman yang pintar.”

“Kalau cuma ingin tapi gak ada niat itu percuma lah, Ge. Oh iya, si Bingung juga pernah ngomong kalau yang benar-benar memberi nilai itu hanyalah Allah karena hanya Dia Yang Maha Adil.”

“Waduh Dul! Kalau sudah berurusan dengan Tuhan aku enggak berani.”

Gak berani kok kamu terusin to Ge Ge, bikin bingung juga kamu ini ternyata.” sahut Adul sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tiba-tiba si Bingung muncul dari belakang De Gea lalu memotong  pembicaraan mereka, “Hayo sedang ngomongin apa kalian berdua kok sepertinya serius amat?”

“Eng..eng..enggak kok Ngung, kita lagi membahas soal yang tadi. Adul tadi cuma jawab tujuh belas soal yang mikir sendiri terus yang lain nyontek, kalo kamu berapa Ngung?” jawab De Gea yang sedikit kaget dengan kedatangan Bingung secara tiba-tiba

“Oh, masih dipermasalahkan saja soal itu, sudahlah gak usah terlalu dipikir. Aku saja cuma menjawab 21 soal yang pasti, sisanya ngawur, hehehe.” jawab si Bingung dengan cengar-cengir. Lalu bel tiba-tiba berdering. Bingung dan kedua temannya dengan segera berjalan menuju ruangan mereka masing-masing.

Saat menuju ruangannya, Bingung sempat bertanya-tanya dalam hatinya, “Apa yang seharusnya kulakukan? Aku hanya ingin melakukan apa yang kuanggap benar. Aku sebenarnya bingung. Apakah jika semua orang, katakanlah, mencontek, maka orang yang tidak menconteklah yang salah? Apakah memang aku yang salah? Apakah zaman sudah berubah? Apakah kini apa yang benar dan salah berbeda dari apa yang dulu dianggap benar dan salah? Adakah orang yang memikirkan hal yang sama denganku?”. Dan dia hanya tersenyum dan tersenyum saja

Dan begitulah sedikit gambaran tentang si Bingung yang aku ketahui. Aku hanya ingin menjawab pertanyaan akhir dari si Bingung “Adakah orang yang memikirkan hal yang sama denganku?” dan jawabanku hanya “Semoga!”.

*

Semua orang memiliki cara masing-masing dalam mempergunakan hidup mereka. Cara hidup yang tampak berbeda mungkin saja menyimpan suatu keinginan yang serupa. Dan satu kejujuran akan tampak dan muncul dengan warna yang berbeda dalam sela-sela kerumunan kedustaan dengan warna sama.

*

Kamis, 15 November 2012

PUISI


Number One For Me

Saat diriku seorang anak kecil bodoh
Hal-hal gila kulakukan
Dan semua rasa sakit kutempatkan padamu
Mama sekarang aku di sini untukmu
Untuk setiap kali aku membuatmu menangis
Di saat ku katakan kebohongan

Sekarang saatnya bagimu untuk bangkit
Untuk semua hal yang telah kau korbankan
Jika aku bisa memutar kembali waktu itu
Jika saya bisa membuat waktu itu dibatalkan
Janji aku akan membuatmu tersenyum

Aku sudah dewasa sekarang
Ini adalah hari baru
Ku ingin menempatkan senyum di wajahmu setiap waktu
Aku sudah dewasa sekarang
Dan jika itu belum terlambat
Ku ingin menempatkan senyum di hatimu setiap hari

Dan sekarang aku akhirnya mengerti
Akan aturan-aturanmu
Tentang di hari  aku akan hadapi saat datang
Dan meskipun aku begitu buruk
aku telah belajar banyak darimu

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengalahkan tempatmu
Maaf selama-lamanya teralun di setiap doaku
Ku akan menggunakan setiap kesempatan yang ku dapatkan
Untuk membuatmu tersenyum, setiap kali aku di sampingmu
Sekarang ku akan mencoba mencintaimu seperti kau mencintaiku
Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar kau berarti bagiku

Namun, itu semua hanya ekspektasiku belaka
Kau tinggalkanku ke alam berbeda
Dan aku hanya mengingat kesalahan-kesalahanku padamu
Namun tetap kuingat wajahmu di setiap doaku
Kau yang selalu tersimpan

Selasa, 30 Oktober 2012

PUISI

Ku Ingin Pulang

ku jauh dari-Mu
nama-Mu kusebut selalu
tapi aku bagai tak menyebut
berbisik dari rongga suaraku
kudengar menembus rongga dengarku
hilang sudah

ku jauh dari-Mu
asma-Mu kutatap selalu
tapi aku bagai tak memandang
satu kedipan mata terpejam
hilang sudah

aku harap navigasi itu,
aku hilang arah
tersesat dalam gelap dijalanku
aku ingin pulang
aku sudah puas dengan petang

berikan aku radiasi sinar-Mu
tuntunlah aku ke jalan lurusmu
walau ku harus merangkak
aku tunduk




Selasa, 23 Oktober 2012

Bayang-bayang Nabi


Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
“Membela yang lemah dan membantu yang miskin” jawab Nabi.
Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang – arang lemah” jawabnya
Ya Rasulullah … apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
“Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta”
Ya RAsulullah… Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama’
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya… RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?
“Wahai ummatku…
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, “Wa ‘asiruhunna bil ma’ruf”
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, “Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka”
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, “Kullulkum Ra’in, ea kullukum masulun ‘an ra’iyyatihi ?”

Puisi



IBU

Oh Ibu
Kau di sini sejukkan pagi
Kehilangamu terasa dingin dan kesepian


Dan Aku bagai purnama gerhana
diibarat lautan kering tiada tempat kulayakkan

Padamu Ibu tersayang kucurahkan rasa hati
Kutatapi potretmu berulang kali
Kurenungkan kalimat yang kauberi

Tuhan Yang Esa ampuni dosa ibu
Tempatkan Dia disejuknya surgamu

Oh Ibu kekasih sejati
Kutaburkan do'a mewangi untukmu
Ampunilah dosaku
sejak kudilahirkan hingga akhir hayatku

Saat ini kuteruskan hidup tanpa bersamamu
Kini aku hilang tempat mengadu
Oh Ibu

Senin, 22 Oktober 2012

The Secret admirer

-The Craving-

Really, My eyes glued
in every panoramic in every curve of your face
so beautiful in white
blinding both of my eyes

Hey, but suddenly it froze my soul
when i know it's just the limit,
the limit of my feelings to you

But, I want to try and try
try to prenetrate the top of restriction ,
to hold your hands,
to touch your heart
like you touch my heart
without any attempt,

Just show yourself in front of me
even though without any words,
just smile and i will smile too,
just call my name and i will bow
and it's enough.

Senin, 14 Desember 2009

WELCOME

Teruskanlah hidupmu!!! Hadapi segala masalah yang terjadi,walau halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran.