Semoga
Aku Tidak Bingung
Walau mimpi akan selalu menjadi
angan, biarkan harapan beri sedikit kekuatan.
*
Siapa yang ingin tahu tentang si
Bingung? Mungkin hanya sedikit orang yang mengerti akan dirinya, atau mungkin banyak.
Namun, barangsiapa yang ingin mengerti lebih tentang dirinya bisa tanyakan saja
pada kedua orang tua atau teman dekatnya. Dan aku adalah salah satu dari temannya.
Baiklah ini sedikit gambaran
tentang dia dan kehidupannya yang serba simpel.
Dia bernama Bingung Saja, yang kini masih memakan bangku SMU. Lahir dan tumbuh dalam
keluarga yang katakanlah kecukupan. Dia dianugerahi Tuhan perawakan yang menawan,
badannya bagaikan beton kokoh yang sulit dirobohkan tapi sekali roboh bisa-bisa
orang di sekitarnya seperti merasakan gempa berskala kecil, wajahnya kocak seperti
terbuat dari karet, dan apakah dia sedang gembira, sedih, atau dipermalukan wajahnya
tetap memancarkan senyum walau sedikit tidak ikhlas. Sejak kecil dia sudah
menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuanya pun meski tidak
memanjakannya, tetap sangat menyayanginya.
Sejak TK sampai SMA dia pun terkenal
dikalangan sekolahnya. Entah apa yang membuatnya popular, mungkin dia memiliki
pesona tersendiri. Padahal dia jarang sekali mewakili lomba-lomba atau olimpiade,
bahkan mungkin juga tidak pernah, kalaupun pernah itu pun merupakan sebuah
pengecualian. Sewaktu SD dia selalu menyandang peringkat lima besar di kelasnya.
Sewaktu menginjak SMP dia melanjutkan ke salah satu pondok modern yang bisa dikatakan
cukup favorit dan populer. Namun, tiga semester kemudian bukannya dia mendapat
juara tapi malah sanksi drop out yang
harus ia jalani.
Kehidupannya memang penuh liku-liku.
Setelah dia di keluarkan dengan tidak hormat karena perbuatan fatal yang dilakukannya,
kemudian dia pindah ke salah satu SMP di desanya dan dia hijrah dari perbuatan
buruknya itu. Terbukti disaat kelulusan, dia mendapat nilai UN yang tertinggi
di sekolahnya dan berhasil diterima di SMA unggulan di kotanya. Meski begitu,
dia tidak besar kepala. Dia tetap berjalan dengan menundukkan kepala. Dia hanya
ingin menjadi seorang yang sedang-sedang saja, terlalu pintar tidak, bodoh pun
tidak, terbukti sewaktu menerima lembar hasil ulangan dia biasanya mendapat nilai
pas-pasan, antara urusan dunia dan akhirat
pun seimbang tanpa dia anggap sulit, yang ada dalam benaknya berusaha itu sudah
cukup baginya.
Dibanding teman-temannya yang lain dia
merasa sedikit lebih bangga. Baiklah kalau teman-temannya mendapat nilai di atas
rata-rata tapi entah darimana asalnya. Tapi Bingung tetap ber-khusnuzon kalau teman-temannya mendapatkan
nilai yang memuaskan itu dengan jerih payah mereka sendiri. Yang dia bingungkan
mengapa disaat akan diadakan ulangan teman-temannya semua bingung untuk mencari
jejeran teman yang dianggapnya top. Nah, sedangkan dia, dia hanya menganggap
biasa-biasa aja tuh, malah terkadang Bingung
disuruh pindah dari bangkunya yang mereka anggap strategis untuk mengadakan
kerjasama. Salah satu dari mereka berkata, “Heh, pindah dong! Bangku ini kan sudah ku-setting
khusus buat Rama.” Namun perkataan itu hanya dia jawab dengan senyuman manisnya
dan dia tetap mempertahankan bangku itu karena di dalam peraturan kelasnya
tersirat aturan “siapa cepat dia dapat”, entah itu si anak pintar atau biasa yang
terpenting harus konsisten terhadap aturan tersebut.
*
“Ngung, sudah ngerjain PR matematika yang kemarin belum?”,
tanya Pi’i, salah satu dari temannya
“Belum, aku tadi malam ketiduran, terlalu capek. Memangnya
kenapa Pi?”, sahut Bingung.
“Kamu gak takut apa
diberi 25 soal sama guru itu kalau tidak nengerjakan PR?”
“Pi, memangnya kamu
takut? Kalo kamu takut sama aja musyrik!”, jawabnya sambil bercanda.
“Lhoh, kok bisa gitu Ngung?”
“Ya bisalah, yang perlu kamu takuti itu hanyalah Tuhan.”
“Hahaha bisa aja kamu
ini Ngung. Ya sudah ayo sekarang kerjakan PR-nya!”
“Jangan, namanya PR ya harus dikerjakan di rumah Pi.”
“Hah, susah ngomong sama kamu, membingungkan kayak namanya.”
Si Bingung memang aneh, bukan? Tapi itu sebenarnya patut dilakukan.
Dalam hatinya ia bergumam, “Kalau pekerjaan rumah itu dikerjakan di sekolah, lalu
untuk apa sewaktu SD aku dulu diajarkan pekerjaan rumah itu harus diselesaikan
di rumah? Meskipun harus menerima hukuman karena tidak mengerjakan, aku tetap
bersedia. Apa sebenarnya yang kuinginkan? Aku sebenarnya bingung ingin mengikuti
alur pikiran teman-temanku yang sedikit menyimpang atau tetap pada pendirianku
sendiri, jujur dan mandiri. Lagi-lagi aku bingung sendiri.”
*
Siang itu, saat Mid Semester Test mata
pelajaran kimia berlangsung, dia menggoreskan tinta merah pada lembar jawabannya.
Entah apa yang dilakukannya itu tak sadar ataukah mempunyai maksud terselubung
di dalamnya, yang terlintas dalam
pikirannya hanyalah mengerjakan dengan jerih payahnya sendiri, ngawur-pun dilaluinya dengan sangat pasti
dan penuh ekspektasi, yang terpenting dirinya bangga tidak menuangkan satupun jawaban
teman di atas kertasnya. Ups, namun tampaknya
dia lupa bahwa telah menjawab dengan tinta yang dianggap sakral tersebut. Seminggu
setelah itu dia dimintai pertanggung jawaban oleh seorang guru kimia karena kelalaiannya.
Akan tetapi guru tersebut sepertinya sedikit lupa pula, yang menulis tinta merah
atas nama Bingung Saja atau Bingung yang lain. Lagi-lagi bingung. Kali ini guru
tersebut yang dibuat bingung.
“Ngung, kira-kira apa yang ada dalam
pikiranmu kalau orang menulis tinta dengan warna merah?”, tanya guru itu.
Bingung terdiam sejenak sembari
berpikir mengapa guru tersebut bertanya tentang itu, lalu ia menjawab, “Mungkin,
orang tersebut tidak memiliki tinta selain merah, Pak.”
“Terus, apa kamu tahu arti dari tinta
merah?”
“Emm, tidak tahu Pak”, lanjut
Bingung sambil menggaruk-garuk kepala memancarkan kebingungan, itu pun dia lakukan
dengan senyuman. Teman-temannya serentak terbahak-bahak mendengar jawaban si
Bingung dan terdengar suara yang agak jelas di sela-sela kerumunan tawa itu,
“Gimana sih inginnya dia itu, mau nantang
guru apa mau buat lelucon? Hahaha.”
Bingung lagi-lagi bingung dalam hatinya
berbisik, “Apa yang perlu ditertawakan? Rasanya aku sudah menjawab dengan
jujur. Apa dunia ini sudah terbalik, yang jujur ditertawakan, yang tidak jujur
dianggap meyakinkan?”
“Eh, Ngung kalau kamu tidak tahu arti
tinta merah itu apa, lalu kamu tahu tidak maksud saya bertanya kepada kamu?”
“Tidak juga, Pak.”
“Haduh kamu ini, gini Ngung
sepertinya kamu yang menjawab soal kimia dengan tinta merah tapi saya masih ragu
itu tulisanmu atau bukan. Tapi, nampaknya itu tulisan kamu deh, soalnya font-nya langka banget.”
“Tapi saya juga lupa, Pak.” jawab si
Bingung tampak sedikit tegang namun dia masih sempat memancarkan senyum anehnya.
Dan kali ini Bingung dan gurunya sama-sama bingung.
“Kring”, “Kring”, “Kriiing”. Perbincangan
si Bingung dengan gurunya disela dering bel tanda jam pelajaran berakhir.
“Ok Ngung, nanti saya lihat lagi siapa
pemilik lembar jawaban itu.” lanjut guru itu mengakhiri percakapannya lalu
memberi salam kepada murid-muridnya. Sedangkan Si Bingung berharap semoga itu
bukan tulisan dia.
*
Dua bulan telah berlalu dan kini waktunya
dia menjalani Ujian Akhir Semester. Begitu santainya dia. Dengan optimis
Bingung menjawab semua soal yang di ujikan. Tidak jarang dia pun sebelum atau
sesudah mengerjakan, masih sempat-sempatnya tidur. Dan ironisnya lagi, di balik
itu dia lebih dulu menyelesaikan ujiannya dibanding teman-temannya yang lain. Sungguh
mengagetkan seluruh isi dalam ruangan tersebut. Teman-temannya tercengang secara
spontan serentak berkata, “Wiiih, edian si Bingung sudah selesai. Pakai jurus apaan
dia itu kok mengerjakan secepat kilat menyambar???”. Si Bingung lalu dengan gagahnya
dan penuh wibawa mengumpulkan lembar jawabannya kepada pengawas ujian dan keluar
ruangan. Sementara teman-teman yang lain kebingungan memilih jawaban yang benar,
sebagian lagi bingung mencari kepastian jawaban alias bermusyawarah dengan isyarat-isyarat
tubuh, dan pengawas pun kebingungan mengawasi. Lagi-lagi bingung.
Setengah jam kemudian bel berdering
dan waktunya istirahat. Teman-teman Bingung langsung berkumpul, bersantai, belajar
untuk ujian selanjutnya, dan sebagian yang lain membahas ujian yang baru saja
usai. Sementara itu, Bingung sendiri malah pergi untuk menunaikan shalat Dhuha.
Baginya semua ilmu itu milik Allah semata dan yang memberi ilmu itu pun Dia Yang
Maha Pemberi. Jadi dia cukup berusaha semampunya dan tidak dilebih-lebihkan
hingga akhirnya lupa kepada Yang Maha Memiliki ilmu itu sendiri.
Pada saat yang sama pula, kedua teman
Bingung membicarakan tentang dirinya.
“Dul, si Bingung itu jarang nyontek
ya?”, tanya De Gea kepada Adul yang seruang dengan Bingung saat ujian
Adul kemudian menjawab dengan tawanya,
“Ya memang jarang nyontek tapi dia ngawur
jawabnya kalau gak bisa, menuruti kata
hatinya kali, hahaha.”
“Tapi dia termasuk jujur lho. Walah walah, masih ada saja orang yang
seperti itu. Aku sebenarnya iri dengannya. Aku ingin seperti dia, tapi aku takut
kalau nilaiku nanti jelek, mendingan nyontek
teman-teman yang pintar.”
“Kalau cuma ingin tapi gak ada niat
itu percuma lah, Ge. Oh iya, si Bingung juga pernah ngomong kalau yang benar-benar
memberi nilai itu hanyalah Allah karena hanya Dia Yang Maha Adil.”
“Waduh Dul! Kalau sudah berurusan
dengan Tuhan aku enggak berani.”
“Gak
berani kok kamu terusin to Ge Ge, bikin bingung juga kamu ini ternyata.” sahut
Adul sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Tiba-tiba si Bingung muncul dari belakang
De Gea lalu memotong pembicaraan mereka,
“Hayo sedang ngomongin apa kalian
berdua kok sepertinya serius amat?”
“Eng..eng..enggak kok Ngung, kita lagi
membahas soal yang tadi. Adul tadi cuma jawab tujuh belas soal yang mikir sendiri terus yang lain nyontek,
kalo kamu berapa Ngung?” jawab De Gea yang sedikit kaget dengan kedatangan
Bingung secara tiba-tiba
“Oh, masih dipermasalahkan saja soal
itu, sudahlah gak usah terlalu dipikir. Aku saja cuma menjawab 21 soal yang pasti,
sisanya ngawur, hehehe.” jawab si Bingung dengan cengar-cengir. Lalu bel tiba-tiba berdering. Bingung dan kedua temannya
dengan segera berjalan menuju ruangan mereka masing-masing.
Saat menuju ruangannya, Bingung sempat bertanya-tanya dalam
hatinya, “Apa yang seharusnya kulakukan? Aku hanya ingin melakukan apa yang
kuanggap benar. Aku sebenarnya bingung. Apakah jika semua orang, katakanlah,
mencontek, maka orang yang tidak menconteklah yang salah? Apakah memang aku
yang salah? Apakah zaman sudah berubah? Apakah kini apa yang benar dan salah
berbeda dari apa yang dulu dianggap benar dan salah? Adakah orang yang
memikirkan hal yang sama denganku?”. Dan dia hanya tersenyum dan tersenyum saja
Dan
begitulah sedikit gambaran tentang si Bingung yang aku ketahui. Aku hanya ingin
menjawab pertanyaan akhir dari si Bingung “Adakah orang yang memikirkan hal yang
sama denganku?” dan jawabanku hanya “Semoga!”.
*
Semua orang memiliki cara
masing-masing dalam mempergunakan hidup mereka. Cara hidup yang tampak berbeda
mungkin saja menyimpan suatu keinginan yang serupa. Dan satu kejujuran akan
tampak dan muncul dengan warna yang berbeda dalam sela-sela kerumunan kedustaan
dengan warna sama.
*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar